Saturday, March 14, 2015

That Girl

I’m that girl who keep being trapped in her own future.
That girl who keep looking straight to the front, forgetting the land her feet stood on.
That girl who doesn’t notice what the present has given to her, but keep assuming that future will give her more, will give her what she really wants.
So, that girl absolutely forgets what she really needs.
That girl forgets how to live in the present.
Will you help that girl?
Will you help me?

I know, that everything in this world, is temporary.
Well, I knew it just now.
The struggle I’ve been whining about right now, it won’t matter in the future.
I should have known, and i should have kept it in my mind. But I’m already whining about it.
I kept wishing for a nice (well what I mean nice is so damn great) love story.
I kept wishing that one day, someone come to me, and never let me go.
I always thought I deserve it, because of all the burdens I’ve been brought all the way since I was a kid. I think I deserve a gift , a surprise, a present that I want.
Yes, I always want a nice love story.
But, you know, the more I think about it, the more it makes me afraid of having.
Imagine the responsibilities.
Imagine the risks.
It will be so nice, I think, having someone who is really, completely, love you. Someone who has no blood relation with you. Yes, someone who’s stranger to you at first, but become someone all of sudden to you, to your heart.
But God knows better.
I used to wish to get what I want. But now, I wish to get what’s best for me.
It’s hard. I know. But i just got to live in the present.
I have to get out of my own future.
And let God alone in it.
And who knows, if there’s you in mine?

I love you. Present tense.

Friday, March 13, 2015

Better Late Than Never

JUST TO SORT SOME THINGS HERE
HaaaaaiJ
SO this is the really my ultimate first post, as a sign of how serious I am to write things, to write my life.
And I just want you to know that:
You can have me as the blog’s owner here. So I’ll gonna choke you up with my still-terrible writings.
And i can have you as my reader. You can have my blog as your company as long as you want.

And, with all of my heart, I wish you a very happy reading.

Saturday, May 31, 2014

Faith Never Kills

Saat itu aku berumur 11 tahun.
Aku sedang duduk di depan pintu rumah, menunggu surat kalian yang tak kunjung datang.
“Sudahlah, Nak. Takkan ada burung hantu lewat di daerah ini. Apalagi sekarang sudah lewat maghrib. Ayo masuk, sayang,” rayu mamaku.
“Tapi Ma, suratku belum datang.”
“Apa kamu masih percaya mereka memang benar-benar ada?”
Aku terdiam.
--
Salahkah aku, yang selama ini masih mempercayai keberadaan kalian? After all this time?
Memang, aku tak pernah menjawab ketika Mama yang bertanya hal tersebut. Tenang, bukan karena malu, kok. Aku cuma sedang menunggu suatu momen, momen yang tepat untuk mengatakan,
“Iya, Ma. Aku masih percaya. Dan lihatlah aku sekarang. Tidakkah Mama bangga kepada anakmu sekarang?
“Tidakkah Mama bangga kepada anakmu yang bisa melakukan apa saja sekarang, tanpa harus merepotkan apalagi memohon kepada Mama, hanya karena anakmu ini terus mempercayai dan memperjuangkan mimpinya?”
Aku yakin aku masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan momen itu. Suatu saat nanti.
Jadi, jangan tanya lagi, deh. Harry Potter is my heart. It pumps my blood through my veins. And it is one of the reasons why I still standing right here, right now.
--
Di dunia ini, aku memang bukan satu-satunya penggemar mereka.
They are so bloody many!
Jadi, tak heran jika terdapat banyak sekali merchandise buatan para penggemar-penggemar itu.
Dan, coba tebak!
Aku mendapatkan tongkat sihir milik Ginny Weasley dan scarf milik Slytherin! Masih segar dan dikirim langsung dari Inggris!
At least, aku memiliki beberapa barang yang dapat membuktikan bahwa aku memang termasuk dalam penggemar-penggemar itu.
Dan, jangan tanya lagi, deh. I admire those two every single day without forgetting to clean them.
--
“You have to be here soon. We need you.”
Pupilku melebar. Telingaku mendadak mendengung. Aku tak sadar aku sudah berada di lantai, dengan dada yang makin memperbesar akselerasi. Aku berusaha berdiri. Tetapi kaki seperti terserang polio, tak bisa kugerakkan.
Tadi itu, suaranya...
Ron?
Ron Weasley?
Ah, bagaimana bisa!!
Tapi, tadi itu, patronusnya...
Ron Weasley?
--
“Ron itu cuma side-kick! Dia cuma cadangan! Dia nggak berguna seperti Harry ataupun Hermione! Mengapa kamu begitu menyukainya?”
“Apa yang bisa kamu banggakan dari Ron?”
“Ron itu bodoh.”
Kubiarkan mereka meluapkan segalanya, melewati bibir mereka yang sama sekali takkan pernah kulupa.
Biar.
Aku tahu Ron Weasley melampaui batas kemampuan berpikir mereka. Mereka memang bodoh.
Dan, Ron Weasley is still my king.
--
Tanganku masih bergetar. Nafasku masih belum bisa kuatur.
Aku menggenggam tongkat Ginny di tangan kananku, sedangkan kubiarkan tangan yang lain mengelus-elus dada. Kupikir dengan begitu jantung ini bisa sedikit melambatkan adrenalinnya, tetapi aku salah.
Aku menggoyangkan badanku. Melompat-lompat di tempat. Mengambil nafas yang sangat dalam untuk terakhir kalinya. Lalu akupun berkata,
“King’s Cross London.”
Cahaya putih keluar dari ujung tongkat, dengan cepat mereka mengelilingiku.
Sayang, mata ini tak kuat menahan silaunya.
--
Aku meraba tanah beraspal ini.
Aku benar-benar sedang meraba tanah beraspal di London, Inggris.
Aku benar-benar berada di Inggris!
Aku melihat sekelilingku, banyak sekali orang --yang kuyakini pasti orang asli inggris—berjalan kesana kemari. Ada yang barusan keluar dari stasiun, ada juga yang sedang berlari mengejar waktu menuju stasiun.
Tak kusadari aku pun ikut berlari.
Tak tahu harus kemana, jujur saja. Aku hanya mengikuti kemana arah tongkat ini menuju. Ternyata tongkat ini juga bisa digunakan sebagai kompas.
Dan, coba tebak, tak ada orang yang bertanya akan benda yang kubawa terang-terangan ini. Tak ada yang menyadarinya, padahal sudah berada di depan mata mereka.
Apa aku tak terlihat?
Apa tongkat ini tak terlihat?
Sebaiknya kupikir nanti saja. Atau bisa saja kutanyakan kepada Ron.
Hehe.
Tak kusadari, tongkat Ginny sudah berhenti bergerak.
Ah, ternyata tongkat ini mengajakku ke tempat yang sudah lama kumimpikan.
Port 9 ¾.
--
Aku melihat mereka, at last.
Aku melihat mereka berkumpul, mereka terlihat banyak sekali di dalam King's Cross ini.
Tetapi aku tak bisa berlama-lama lagi, aku harus segera menyelamatkan mereka.
Aku berjalan ke arah retakan itu, retakan yang mereka berusaha tutup-tutupi sejak aku melintasi port 9 ¾. Retakan itu sangat besar, dan didalamnya tak terlihat apa-apa, karena cahaya putih keluar dengan terlalu bersemangat dari sana. Silau.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus masuk ke dalam retakan itu. Retakan yang telah mengancam kehidupan mereka, yang perlahan-lahan menelan mereka halaman demi halaman.
Demi mereka, apa, sih, yang tidak?
Aku memejamkan mataku, berharap dapat mengurangi silau yang disebabkannya, aku mulai berjalan ke dalam retakan itu.
Tetapi seseorang menghentikanku.
Ia meletakkan tangannya di lenganku yang mungil baginya.
“Aku benar-benar minta maaf,” dia berkata dengan setengah memohon, setengah putus asa.
Aku membalikkan badanku. Aku mengangkat kepalaku agar mataku dapat bertemu dengan matanya.
“Kami tak pernah mengira bahwa hal seperti ini dapat terjadi, kami tahu kami selalu berada di dalam memori kalian, walau kami hanya menempati satu sel neuron pun, itu sudah cukup untuk menghidupi kami.
“Dan kamu. Kenapa kami memilihmu? Mungkin kamu bukan our best fan in this whole world, mungkin kamu bukan penggemar yang benar-benar memiliki seluruh koleksi resapan dunia kita, mungkin kamu bukan penggemar yang benar-benar menjadikan kami your role model in life, but you’re the one, the one of a kind. Dari sekian banyak manusia di duniamu, hanya kamu yang bisa menjadi satu-satunya, satu-satunya penggemar yang dapat memberikan kami nafas sesegar ini, satu-satunya fans yang membuat kami semua merasa bahwa kita memang masih layak hidup. Kamu tidak berusaha untuk menjadi yang terbaik, dan itu yang kami cari. Kamu yang dicari oleh retakan itu.”
Bayangkan saja bagaimana aku saat itu, berusaha meresapi apa yang ia katakan.
Bayangkan betapa susahnya aku melarang air mata ini untuk jatuh.
Bayangkan betapa, betapa aku ingin mengeluarkan jantung ini dan berkata, “hei apa kamu masih kuat menahan semua gejolak ini?”
Kupenjamkan mataku sesaat, berusaha mencari neuron itu, neuron yang kutebak pasti lebih dari satu, neuron yang kupakai untuk mereka.
Neuron yang kupakai untuk menghormati mereka.
Mengenang mereka.
Tak kusangka selama ini aku telah memberi mereka ruang untuk hidup hanya dengan neuron ini.
“Ron, tanpa kalian harus memohon pun, aku akan memberikan neuron ini cuma-cuma.”
Kudapati kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari bibirku.
“Kalau perlu, bedah kepalaku ini, ambillah neuron yang kalian perlukan. Aku tidak bertindak bodoh sekarang, tetapi jika kalian memiliki suatu alat ataupun mantra sihir yang dapat melakukan itu, aku benar-benar bersedia.”
Baru kusadari bibirku bergetar sedari tadi.
“Aku mencintai kalian. Tahukah kalian, bahwa kalian, juga memberikanku hidup?”
Hanya mata-mata itu yang menyambutku, mata indah mereka selayaknya mata orang Eropa biasanya.
“Menurutku, manusia takkan bisa hidup jika mereka hanya terfokus kepada apa yang berada di depan mata mereka. Kurasa, hidup ini bukan hanya tentang segala hal yang terlihat mata kepala ini, tetapi tentang mata hati ini juga.
“Dan kalian, kalian membuka mata hatiku. Aku tahu itu sejak pertama kali aku menemukan novel kalian. Berkat kalian, hidupku menjadi lebih hidup. Dan aku mensyukuri setiap detik yang aku lalui bersama kalian di pikiran ini.
"Tak usahlah kalian merasa bersalah. Aku memberimu hidup, kau juga memberiku hidup. Tidakkah terdengar impas di telingamu, Ron?"
Kemudian ia memelukku.
Ah, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana menjadi Hermione walau sebentar.
--
Aku meraba novel kalian, kucermati kalian baik-baik.
Di sana, ada kamu yang mengenakan kacamata bulat. Aku suka kacamatamu. Aku senang kamu berkacamata sepertiku.
Di samping kirimu, ada anak lelaki lain yang kupikir lebih lucu darimu. Ia lucu karena rambutnya sangat cerah, bewarna oranye keemasan. Ia membuatku terpana.
Di samping kananmu, ada anak gadis yang cantik. Ia cantik dengan rambutnya yang bergelombang. Ia membuatku berharap agar bisa tumbuh secantik dia.
Betapa tak sabarnya aku untuk membawa kalian pulang.
Tak usah khawatir, aku akan merawat kalian dengan baik.
--
Oke, ini nggak lucu.
Aku sudah pasrah dan ikhlas dari detik pertama aku memasuki retakan tersebut.
Aku sudah bersiap untuk mendapati diriku berada dimanapun.
Aku sudah bersiap untuk dibangunkan oleh siapapun atau bagaimanapun dari tidur ini.
Tapi, apa ini?
Yang kudapat adalah seseorang mengelus-elus lenganku sekarang. Geli, tahu.
Aku tak tahan geli.
“Nak, nak?”
Biarkan aku tidur saja, jangan elus aku lagi.
“Nak? Kok malah tidur. Kamu tidur di depan pintu lagi, kalau mau tidur di kasur, Nak.”
Aku di depan pintu?
“Hmm, biarin, Ma. Suratku belum datang.”
Bicara apa aku barusan?
“Yang semangat, dong, kalau masih mau menunggu. Semoga burung hantumu cepat datang, Nak.”
Burung hantu?
Walau susah, kucoba membuka mata ini perlahan.
Aku memang berada di depan pintu rumah. Aku melihat ke sekelilingku, aku menoleh ke kiri, lalu ke kanan, kemudian ke atas. Kulihat langit masih biru, dan matahari masih bersemangat di atas sana.
Apa aku di surga?
Kenapa di surga masih ada matahari?
Aku meraba segala sudut dan lekuk tubuhku. Semuanya masih utuh, tak ada yang hilang.
Tetapi...
Eh! Apa ini!
Jantung ini memang tak pernah betah berada di tempatnya, ia menggunakan seluruh adrenalinnya untuk mencekikku.
Aku langsung berdiri dari tempatku duduk tadi, dan berlari ke kamar mandi.
Dan tebak apa yang kutemukan sesaat setelah pintu kamar mandi terbuka.
Aku terpaku. Badanku benar-benar kaku. Keringat dingin mengalir dari leher belakangku. Tanganku masih meremas gagang pintu. Aku benar-benar tak percaya dengan pengelihatanku sekarang.
Kamu tahu? Biasanya, aku dapat melihat bayangan diriku di dalam cermin sesaat setelah membuka pintu kamar mandi. Karena Mama memang sengaja meletakkan cermin agar sejajar dengan pintu.
Dan iya, sekarang aku tak bisa melihat bayangan diriku sendiri.
Bukan, aku masih hidup kok.
Aku kembali hidup.
Hanya saja aku mengecil, sampai-sampai aku tak bisa melihat bayanganku tanpa menjinjit.
Segala hal yang berada di diriku mengecil, karena aku kembali ke diriku yang berumur 11 tahun.
Aku ingat karena baju yang kupakai sekarang adalah baju yang sama ketika menunggu surat mereka.
Aku menutup pintu kamar mandi kembali. Rasanya hal ini susah kuterima dengan logika. Aku berjalan dengan kepala tertunduk ke depan pintu rumah. Aku benar-benar butuh udara segar.
Aku melihat langit, aku senang tak ada awan yang menghalangiku melihat betapa telanjangnya langit hari ini.
“Kenapa retakan itu membawaku kembali ke dimensi ini? Apakah engkau ingin menguji kesetiaanku kepada mereka sekali lagi? Berapa kali pun aku tetap akan setia, wahai retakan misterius,” ucapku pelan.
Tiba-tiba terdapat sosok hitam di langit, seperti burung, karena sepertinya sosok tersebut sedang terbang.
Sosok tersebut terbang ke arahku.
Tubuhku refleks untuk berdiri, melihat sosok tersebut lebih dekat, tak peduli matahari menyilaukan pengelihatan ini.
Aku berlari mengikuti sosok tersebut yang semakin mendekat, dan kucoba menangkapnya.
Sosok itu berada di dekapanku sekarang.
Dan, sosok itu merupakan burung hantu. Dengan surat yang berada di paruhnya.
Kali ini, aku senang jantungku ikut melompat bersamaku.
Aku berlari masuk ke dalam rumah, dengan tangan kanan menggenggam surat tadi, aku mencari Mama.
“Nak, jangan lari-lari di dalam rumah,” teriaknya dari dalam dapur.
Aku segera berlari ke dapur. Kulihat punggung Mama yang bergerak karena sedang mengaduk sesuatu.
“Iya, Ma. Tapi lihat aku sekarang. Tidakkah Mama bangga kepada anakmu sekarang?”


Kenapa aku harus ke Inggris?
Karena aku ingin membuktikan kepada Mama, bahwa aku bisa melakukan ataupun mendapatkan apa yang aku inginkan dengan usahaku sendiri, dengan semangatku sendiri, dengan hobiku sendiri, tanpa harus merepotkan Mama lagi.

Saturday, June 11, 2011

May I Say 'HI' ?

Hell-ohh kalian semua yang lagi buka blogkuuu

The name’s Gilda, baru beranjak ke 13, anak kecil kacamataan yang terjangkit tumblr addicted, also a potterhead and actually twilight hater, jatuh bangun sama lagulagunya Maroon 5. And married to Atul dan Sipit :* hahaha anggap saja married itu sahabatan jangan pikir yang anehaneh.

Sebenernya sih aku kurang yakin mbuat blog ini, takut dikira norak, garing, kampungan, gapenting ditambah kalo ada temenku yang baca.... makjleb dia pasti ngumbarngumbar dan akunya tinggal mati njengking -_-
And yeah this is a personal blog, cerita lucu, curhatan, nggapleki, mbencekno, malumaluin tentang aku ada disini.

Dan berhubung ini blog masi baru, so jangan protes kalo memang masi kosong plus garing. And don’t judge my blog please because you don’t know me enough.

Perkenalan cukup sampai disini dan silahkan menikmati cerita yang akan saya hidangkan :D