Saat itu aku berumur
11 tahun.
Aku sedang duduk di depan pintu rumah, menunggu surat kalian yang tak
kunjung datang.
“Sudahlah, Nak. Takkan
ada burung hantu lewat di daerah ini. Apalagi sekarang sudah lewat maghrib. Ayo
masuk, sayang,” rayu mamaku.
“Tapi Ma, suratku
belum datang.”
“Apa kamu masih
percaya mereka memang benar-benar ada?”
Aku terdiam.
--
Salahkah aku, yang selama ini masih mempercayai keberadaan
kalian? After all this time?
Memang, aku tak pernah menjawab ketika Mama yang bertanya
hal tersebut. Tenang, bukan karena malu, kok. Aku cuma sedang menunggu suatu
momen, momen yang tepat untuk mengatakan,
“Iya, Ma. Aku masih percaya. Dan lihatlah aku sekarang.
Tidakkah Mama bangga kepada anakmu sekarang?
“Tidakkah Mama bangga kepada anakmu yang bisa melakukan apa
saja sekarang, tanpa harus merepotkan apalagi memohon kepada Mama, hanya karena
anakmu ini terus mempercayai dan memperjuangkan mimpinya?”
Aku yakin aku masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan
momen itu. Suatu saat nanti.
Jadi, jangan tanya lagi, deh. Harry Potter is my heart. It pumps my blood through
my veins. And it is one of the reasons why I still standing right here, right now.
--
Di dunia ini, aku memang bukan satu-satunya penggemar
mereka.
They are so bloody
many!
Jadi, tak heran jika terdapat banyak sekali merchandise
buatan para penggemar-penggemar itu.
Dan, coba tebak!
Aku mendapatkan tongkat sihir milik Ginny Weasley dan scarf milik Slytherin! Masih segar dan
dikirim langsung dari Inggris!
At least, aku
memiliki beberapa barang yang dapat membuktikan bahwa aku memang termasuk dalam
penggemar-penggemar itu.
Dan, jangan tanya lagi, deh. I admire those two every single day without forgetting to clean them.
--
“You have to be here soon. We need you.”
Pupilku melebar. Telingaku mendadak mendengung. Aku tak
sadar aku sudah berada di lantai, dengan dada yang makin memperbesar
akselerasi. Aku berusaha berdiri. Tetapi kaki seperti terserang polio, tak bisa
kugerakkan.
Tadi itu, suaranya...
Ron?
Ron Weasley?
Ah, bagaimana bisa!!
Tapi, tadi itu, patronusnya...
Ron Weasley?
--
“Ron itu cuma
side-kick! Dia cuma cadangan! Dia nggak berguna seperti Harry ataupun Hermione!
Mengapa kamu begitu menyukainya?”
“Apa yang bisa kamu
banggakan dari Ron?”
“Ron itu bodoh.”
Kubiarkan mereka
meluapkan segalanya, melewati bibir mereka yang sama sekali takkan pernah
kulupa.
Biar.
Aku tahu Ron Weasley
melampaui batas kemampuan berpikir mereka. Mereka memang bodoh.
Dan, Ron Weasley is
still my king.
--
Tanganku masih bergetar. Nafasku masih belum bisa kuatur.
Aku menggenggam tongkat Ginny di tangan kananku, sedangkan
kubiarkan tangan yang lain mengelus-elus dada. Kupikir dengan begitu jantung
ini bisa sedikit melambatkan adrenalinnya, tetapi aku salah.
Aku menggoyangkan badanku. Melompat-lompat di tempat.
Mengambil nafas yang sangat dalam untuk terakhir kalinya. Lalu akupun berkata,
“King’s Cross London.”
Cahaya putih keluar dari ujung tongkat, dengan cepat mereka
mengelilingiku.
Sayang, mata ini tak kuat menahan silaunya.
--
Aku meraba tanah beraspal ini.
Aku benar-benar sedang meraba tanah beraspal di London,
Inggris.
Aku benar-benar berada di Inggris!
Aku melihat sekelilingku, banyak sekali orang --yang
kuyakini pasti orang asli inggris—berjalan kesana kemari. Ada yang barusan
keluar dari stasiun, ada juga yang sedang berlari mengejar waktu menuju
stasiun.
Tak kusadari aku pun ikut berlari.
Tak tahu harus kemana, jujur saja. Aku hanya mengikuti
kemana arah tongkat ini menuju. Ternyata tongkat ini juga bisa digunakan
sebagai kompas.
Dan, coba tebak, tak ada orang yang bertanya akan benda yang
kubawa terang-terangan ini. Tak ada yang menyadarinya, padahal sudah berada di
depan mata mereka.
Apa aku tak terlihat?
Apa tongkat ini tak terlihat?
Sebaiknya kupikir nanti saja. Atau bisa saja kutanyakan
kepada Ron.
Hehe.
Tak kusadari, tongkat Ginny sudah berhenti bergerak.
Ah, ternyata tongkat ini mengajakku ke tempat yang sudah
lama kumimpikan.
Port 9 ¾.
--
Aku melihat mereka, at last.
Aku melihat mereka berkumpul, mereka terlihat banyak sekali di dalam King's Cross ini.
Tetapi aku tak bisa berlama-lama lagi, aku harus segera menyelamatkan mereka.
Aku berjalan ke arah retakan itu, retakan yang mereka berusaha tutup-tutupi sejak aku melintasi port 9 ¾. Retakan itu sangat besar, dan didalamnya tak terlihat apa-apa, karena cahaya putih keluar dengan terlalu bersemangat dari sana. Silau.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus masuk ke dalam retakan itu. Retakan yang telah mengancam kehidupan mereka, yang perlahan-lahan menelan mereka halaman demi halaman.
Demi mereka, apa, sih, yang tidak?
Aku memejamkan mataku, berharap dapat mengurangi silau yang disebabkannya, aku mulai berjalan ke dalam retakan itu.
Tetapi seseorang menghentikanku.
Ia meletakkan tangannya di lenganku yang mungil baginya.
“Aku benar-benar minta maaf,” dia berkata dengan setengah
memohon, setengah putus asa.
Aku membalikkan badanku. Aku mengangkat kepalaku agar mataku dapat bertemu dengan matanya.
“Kami tak pernah mengira bahwa hal seperti ini dapat
terjadi, kami tahu kami selalu berada di dalam memori kalian, walau kami hanya
menempati satu sel neuron pun, itu sudah cukup untuk menghidupi kami.
“Dan kamu. Kenapa kami memilihmu? Mungkin kamu bukan our best fan in this whole world,
mungkin kamu bukan penggemar yang benar-benar memiliki seluruh koleksi resapan
dunia kita, mungkin kamu bukan penggemar yang benar-benar menjadikan kami your role model in life, but you’re the one, the one of a kind. Dari
sekian banyak manusia di duniamu, hanya kamu yang bisa menjadi satu-satunya,
satu-satunya penggemar yang dapat memberikan kami nafas sesegar ini,
satu-satunya fans yang membuat kami semua merasa bahwa kita memang masih layak
hidup. Kamu tidak berusaha untuk menjadi yang terbaik, dan itu yang kami cari. Kamu yang dicari oleh retakan itu.”
Bayangkan saja bagaimana aku saat itu, berusaha meresapi apa
yang ia katakan.
Bayangkan betapa susahnya aku melarang air mata ini untuk
jatuh.
Bayangkan betapa, betapa aku ingin mengeluarkan jantung ini
dan berkata, “hei apa kamu masih kuat menahan semua gejolak ini?”
Kupenjamkan mataku sesaat, berusaha mencari neuron itu,
neuron yang kutebak pasti lebih dari satu, neuron yang kupakai untuk mereka.
Neuron yang kupakai untuk menghormati mereka.
Mengenang mereka.
Tak kusangka selama ini aku telah memberi mereka ruang untuk
hidup hanya dengan neuron ini.
“Ron, tanpa kalian harus memohon pun,
aku akan memberikan neuron ini cuma-cuma.”
Kudapati kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari
bibirku.
“Kalau perlu, bedah kepalaku ini, ambillah neuron yang
kalian perlukan. Aku tidak bertindak bodoh sekarang, tetapi jika kalian
memiliki suatu alat ataupun mantra sihir yang dapat melakukan itu, aku
benar-benar bersedia.”
Baru kusadari bibirku bergetar sedari tadi.
“Aku mencintai kalian. Tahukah kalian, bahwa kalian, juga
memberikanku hidup?”
Hanya mata-mata itu yang menyambutku, mata indah mereka
selayaknya mata orang Eropa biasanya.
“Menurutku, manusia takkan bisa hidup jika mereka hanya
terfokus kepada apa yang berada di depan mata mereka. Kurasa, hidup ini bukan
hanya tentang segala hal yang terlihat mata kepala ini, tetapi tentang mata
hati ini juga.
“Dan kalian, kalian membuka mata hatiku. Aku tahu itu sejak pertama kali aku menemukan novel kalian. Berkat kalian, hidupku menjadi lebih hidup. Dan aku mensyukuri setiap detik yang aku lalui bersama kalian di pikiran ini.
"Tak usahlah kalian merasa bersalah. Aku memberimu hidup, kau juga memberiku hidup. Tidakkah terdengar impas di telingamu, Ron?"
Kemudian ia memelukku.
Ah, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana menjadi Hermione walau sebentar.
--
Aku meraba novel kalian, kucermati kalian baik-baik.
Di sana, ada kamu yang mengenakan kacamata bulat. Aku suka kacamatamu. Aku senang kamu berkacamata sepertiku.
Di samping kirimu, ada anak lelaki lain yang kupikir lebih lucu darimu. Ia lucu karena
rambutnya sangat cerah, bewarna oranye keemasan. Ia membuatku terpana.
Di samping kananmu, ada anak gadis yang cantik. Ia cantik dengan rambutnya yang bergelombang. Ia membuatku berharap agar bisa tumbuh secantik dia.
Betapa tak sabarnya aku untuk membawa kalian pulang.
Tak usah khawatir, aku akan merawat kalian dengan baik.
--
Oke, ini nggak lucu.
Aku sudah pasrah dan ikhlas dari detik pertama aku memasuki retakan
tersebut.
Aku sudah bersiap untuk mendapati diriku berada dimanapun.
Aku sudah bersiap untuk dibangunkan oleh siapapun atau
bagaimanapun dari tidur ini.
Tapi, apa ini?
Yang kudapat adalah seseorang mengelus-elus lenganku
sekarang. Geli, tahu.
Aku tak tahan geli.
“Nak, nak?”
Biarkan aku tidur saja, jangan elus aku lagi.
“Nak? Kok malah tidur. Kamu tidur di depan pintu lagi, kalau
mau tidur di kasur, Nak.”
Aku di depan pintu?
“Hmm, biarin, Ma. Suratku belum datang.”
Bicara apa aku barusan?
“Yang semangat, dong, kalau masih mau menunggu. Semoga
burung hantumu cepat datang, Nak.”
Burung hantu?
Walau susah, kucoba membuka mata ini perlahan.
Aku memang berada di depan pintu rumah. Aku melihat ke
sekelilingku, aku menoleh ke kiri, lalu ke kanan, kemudian ke atas. Kulihat
langit masih biru, dan matahari masih bersemangat di atas sana.
Apa aku di surga?
Kenapa di surga masih ada matahari?
Aku meraba segala sudut dan lekuk tubuhku. Semuanya masih
utuh, tak ada yang hilang.
Tetapi...
Eh! Apa ini!
Jantung ini memang tak pernah betah berada di tempatnya, ia
menggunakan seluruh adrenalinnya untuk mencekikku.
Aku langsung berdiri dari tempatku duduk tadi, dan berlari
ke kamar mandi.
Dan tebak apa yang kutemukan sesaat setelah pintu kamar
mandi terbuka.
Aku terpaku. Badanku benar-benar kaku. Keringat dingin
mengalir dari leher belakangku. Tanganku masih meremas gagang pintu. Aku
benar-benar tak percaya dengan pengelihatanku sekarang.
Kamu tahu? Biasanya, aku dapat melihat bayangan diriku di
dalam cermin sesaat setelah membuka pintu kamar mandi. Karena Mama memang
sengaja meletakkan cermin agar sejajar dengan pintu.
Dan iya, sekarang aku tak bisa melihat bayangan diriku
sendiri.
Bukan, aku masih hidup kok.
Aku kembali hidup.
Hanya saja aku mengecil, sampai-sampai aku tak bisa melihat
bayanganku tanpa menjinjit.
Segala hal yang berada di diriku mengecil, karena aku
kembali ke diriku yang berumur 11 tahun.
Aku ingat karena baju yang kupakai sekarang adalah baju yang sama ketika menunggu surat mereka.
Aku menutup pintu kamar mandi kembali. Rasanya hal ini susah
kuterima dengan logika. Aku berjalan dengan kepala tertunduk ke depan pintu
rumah. Aku benar-benar butuh udara segar.
Aku melihat langit, aku senang tak ada awan yang
menghalangiku melihat betapa telanjangnya langit hari ini.
“Kenapa retakan itu membawaku kembali ke dimensi ini? Apakah
engkau ingin menguji kesetiaanku kepada mereka sekali lagi? Berapa kali pun aku
tetap akan setia, wahai retakan misterius,” ucapku pelan.
Tiba-tiba terdapat sosok hitam di langit, seperti burung,
karena sepertinya sosok tersebut sedang terbang.
Sosok tersebut terbang ke arahku.
Tubuhku refleks untuk berdiri, melihat sosok tersebut lebih
dekat, tak peduli matahari menyilaukan pengelihatan ini.
Aku berlari mengikuti sosok tersebut yang semakin mendekat,
dan kucoba menangkapnya.
Sosok itu berada di dekapanku sekarang.
Dan, sosok itu merupakan burung hantu. Dengan surat yang berada
di paruhnya.
Kali ini, aku senang jantungku ikut melompat bersamaku.
Aku berlari masuk ke dalam rumah, dengan tangan kanan
menggenggam surat tadi, aku mencari Mama.
“Nak, jangan lari-lari di dalam rumah,” teriaknya dari dalam dapur.
Aku segera berlari ke dapur. Kulihat punggung Mama yang bergerak karena sedang mengaduk sesuatu.
“Iya, Ma. Tapi lihat aku sekarang. Tidakkah Mama bangga
kepada anakmu sekarang?”
Kenapa aku harus ke Inggris?
Karena aku ingin membuktikan kepada Mama, bahwa aku bisa melakukan ataupun mendapatkan apa yang aku inginkan dengan usahaku sendiri, dengan semangatku sendiri, dengan hobiku sendiri, tanpa harus merepotkan Mama lagi.

No comments:
Post a Comment